1. Latar belakang lahirnya aliran qodariyah
Islam sebagaimana dijumpai dalam sejarah, ternyata tidak sesempit yang dipahami pada umumnya. Dalam sejarah pemikiran Islam, terdapat lebih dari satu aliran yang berkembang. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendapat dikalangan ulama-ulama kalam dalam memahami ayat-ayat al-Quran.Ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dan ada pula ayat yang menunjukkan bahwa segala yang terjadi itu ditentukan oleh Allah, bukan kewenangan manusia . Dari perbedaan pendapat inilah lahir aliran Qadaryiah dan Jabariyah. Aliran Qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dengan kata lain manusia mempunya qudrah (kekuatan atas perbuatannya). Sedangkan Jabariyah berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan kehendak dalam menentukan perbuatannya. Kalaupun ada kehendak dan kebebasan yang dimiliki manusia, kehendak dan kebebasan tersebut tidak memiliki pengaruh apapun, karena yang menentukannya adalah kehendak Allah semata.
Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih merupakan sebuah perdebatan. Akan tetepi menurut Ahmad Amin, ada sebagian pakar teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad al-Jauhani dan Ghilan ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M
2. Latar belakang lahirnya aliran Syi’ah
Mengenai kemunculan Syi’ah dalam sejarah terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ahli. Menurut Abu Zahrah Syi’ah mulai muncul pada akhir masa pemerintahan Usman bin Affan kemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Adapun menurut Watt, Syi’ah baru benar-benar muncul ketika pecahnya perperangan antara Ali dan Mu’awiyah yang dikenal denganperang Siffin.
Kalangan Syi’ah sendiri berpendapat bahwa kemunculan Syi’ah berkaitan dengan masalah pergantian khilafah Nabi SAW. Mereka menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Ustman bin Affan, mereka beranggapan bahwa hanya Ali bin Abi Thalib yang pantas menggantikan Rasulullah SAW. Hal tersebut sejalan dengan isyarat-isyarat Rasulullah semasa hidupnya antara lain;
a. Ketika pada awal islam mendakwahkan ajarannya secara terang-terangan kesempatan itu disebut da’wat dzul asyirah (dakwah kepada karib kerabat). Meminjam kata-kata Rev Sale, Nabi SAW bersabda: “Tuhan telah memerintahkanku untuk mengajak kalian kepadanya, siapa diantara kalian yang ingin membantuku berdakwah dan menjadi penerusku. sebagian besar mereka yang datang menolak dan membenci ajakan itu, akan tetapi saat itu Ali bangkit dan mengatakan bersedia menolong Rasul SAW, sehingga Rasulullah memeluk Ali.
b. Peristiwa ketika Ali memperoleh kemenangan pada perang Khaybar, Rasulullah berkata: “Engkau adalah bagianku dan aku adalah bagianku, kau akan mewariskanku… engkau bagiku bagaikan Harun bagi Musa as. Engkau akan paling dekat denganku di hari kiamat dan paling dekat denganku di telaga kausar. Permusuhan terhadapmu adalah permusuhan terhadapku, perang melawanmu adalah perang melawanku. Keimanan yang kau miliki sebanyak keimananku. Kau adalah gerbang bagiku”. Tidak ada kata-kata yang lebih jelas, tegas, kuat, serta fasih dari pada kata tersebut dan Rasulullah tidak pernah mengatakan kata-kata itu untuk selain Ali r.a.
c. Peristiwa perang Tabuk menjadi bukti ketiganya, Rasulullah SAW mempercayai Ali dan mengangkatnya sebagai pengawal utama untuk mempertahankan benteng terakhir pertahanan pasukan islam dan menyukseskan dakwahnya. Nabi SAW bersabda: “Ya Ali tidak ada yang mampu menjaga negeri muslim selain dirimu dan aku”.
d. Dan peristiwa Ghadir Khumm menjadi salah satu bukti yang mengesahkan Ali sebagai penerus Rasulullah dan penggantinya dihadapan masa yang penuh sesak yang menyertai beliau.

Posting Komentar
Posting Komentar